Media Online Deltras-Deltamania

www.deltamania-cyber.com

Long Life Deltamania

Jaga Selalu Keutuhan Keluarga Besar Ini Kawan !

Ini Dia Regulasi Liga 3 2018

Regulasi Liga 3 Jawa Timur 2018

Friday, January 18, 2019

Delta Campus, Wadah Mahasiswa Pecinta Deltras


Mengenal lebih dekat komunitas Delta Campus

DELTACYBER - Delta Campus adalah sebuah wadah bagi mahasiswa pecinta tim kesebelasan Delta Putra Sidoarjo (Deltras FC Sidoarjo). Komunitas ini terbentuk pada 29 Oktober 2017 lalu. Sesuai dengan namanya yakni Delta Campus, komunitas pendukung Deltras ini memang  terbentuk karena kesamaan latar belakang mereka sebagai mahasiswa. Dari kesamaan latar belakang inilah yang membuat mereka secara sengaja membuat komunitas tersebut.

“Rekan saya, tiga sekawan sekelas sewaktu SMA yang sama-sama pecinta Deltras lah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Delta Campus. Saya berbeda kelas dengan mereka bertiga, namun kami adalah sahabat hingga akhirnya sekitar Oktober 2017 kami sepakat membentuk Delta Campus” ungkap Ivanda, salah satu anggota Delta Campus.

“Anggota kami tersebar dibeberapa Perguruan Tinggi di  Jawa Timur, antara lain ada anak Umsida, UM, UB, dan Unesa. Dan anggotanya sekitar 15 orang. Kami juga sering mengadakan Kopdar (kopi darat) namun kendalanya ada saja anggota yang berhalangan, dan kawan-kawan lainnya juga memaklumi karena mereka juga banyak kegiatan di kampusnya” imbuhnya.

Delta Campus mempunyai situs sosial media di Instagram dan Twitter, dengan id @deltacampus1989. Mereka juga terlihat aktif mengunggah aktivitas mereka di berbagai sosial medianya terhitung sejak komunitas ini terbentuk Oktober tahun lalu. Bahkan beberapa hari sebelum pertandingan Deltras berlangsung mereka selalu membuat semacam pamflet, pamflet tentang pertandingan Deltras Sidoarjo yang berisi konten besifat menyemangati Delta Mania untuk datang ke Stadion dan secara khususnya memberi dukungan secara moril kepada para pemain Deltras melalui sosial media.

“Saya berharap semoga dengan adanya komunitas Delta Campus ini satu anggota dngan angggota lainnya bisa lebih saling mengenal, yang notabene sesama Delta Mania (sebutan pendukung setia Deltras Sidoarjo) dan kedepannya bisa semakin kompak serta tentu semakin total mendukung sang kebanggaan Deltras Sidoarjo” pungkasnya.

penulis : Muh. Ari Rifqi Mubarok

Wednesday, January 16, 2019

VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka


VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka
Satgas Anti Mafia Bola Tetapkan Status Tersangka Kepada Vigit Waluyo

DELTACYBER - Mantan manajer tim Delta Putra Sidoarjo (Deltras) akhirnya benar-benar terseret dalam lingkaran hitam sepakbola Indonesia. Dialah Vigit Waluyo (VW). Putra almarhum H. Mislan pendiri klub Gelora Dewata Bali ini sebelumnya sudah menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo dalam kasusnya dugaan korupsi PDAM, yang merugikan negara Rp 3 Milyar.

Dengan sudah menyerahkan diri, kini VW harus berhadapan dengan kasus lain. Yakni, penyelidikan dirinya terhadap dugaan pengaturan skor di beberapa match dalam kompetisi Liga 2 2018 kemarin. VW akhirnya ditetapkan Satgas Anti Mafia Bola dalam dugaan match-fixing. Penetapan tersebut, setelah tim Satgas mampu mendalami bukti dan laporan terkait.

VW diduga mengalirkan dana segar kepada Dwi Irianto alias mbah putih, yang juga pelaku match fixing yang sebelumnya sudah tertangkap terlebih dahulu. Dana tersebut sebesar Rp 115 juta.
Uang tersebut diberi agar memuluskan langkah PS Mojokerto Putra diduga untuk naik kasta ke Liga 1. Hal tersebut lah yang membuat VW dijadikan tersangka oleh Satgas.

"Bahwa kasus dari pada perkara antara yang dilaporkan [adalah] pak Vigit Waluyo (VW), pada malam ini [kemarin] sudah melakukan gelar perkara," kata ketua tim media Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono, dikutip dari laman goal.com.

"Mekanisme gelar sudah menaikkan VW menjadi tersangka dalam kasus PS Mojokerto Putra," tambah pria berusia 50 tahun tersebut.

Sebelumnya, Vigit juga sudah mendapat hukuman dari Komite Disiplin PSSI. Ia dilarang beraktifitas di lingkungkan sepakbola tanah air karena terlibat match-fixing.

Sejauh ini Satgas Anti Mafia Bola sudah menetapkan enam orang tersangka. Selain Vigit ada komite eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, mantan anggota komite wasit Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, anggota nonaktif komite disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit Nurul Safarid.

PSSI dan Polri Memperkuat Sinergi

SINERGITAS : PSSI dan Polri siap perangi pengaturan skor di Liga Indonesia [foto : pssi.org]

Federasi sepak bola Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia akan memperkuat sinergi untuk menyelesaikan masalah terkait match fixing dan match manipulation. Kerja sama ini akan segera dituangkan dalam nota kepahaman atau MoU.

Dalam pertemuan antara PSSI dan Polri, yang juga dihadiri perwakilan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) dan perwakilan Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), di Jakarta, Selasa (15/1), didiskusikan tentang kolaborasi yang akan dijalankan PSSI dan Polri.es

Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria mengatakan, kerangka kerja sama akan segera disiapkan. PSSI ingin kerja sama yang luas dengan Polri dan perlu dituangkan dalam MoU. “Tidak cuma kasus match fixing atau match manipulation, kita juga ingin kerja sama dalam hal pengamanan pertandingan,” kata Tisha.

Terkait sinergi dalam penuntasan masalah match fixing dan match manipulation, Tisha menjelaskan bentuk kolaborasinya adalah PSSI lebih menangani pelanggaran olahraga yang diatur dalam kode disiplin PSSI, AFC dan FIFA. Sementara Polri lebih menangani ruang lingkup pelanggaran pidana atau yang masuk dalam hukum nasional.

“Pihak kepolisian nantinya akan banyak mengurusi pelanggaran-pelanggaran pidana yang ada di seputar terjadinya dugaan match fixing, sedangkan untuk membuktikan terjadinya match fixing atau tidak, itu ranahnya PSSI. Jadi, diharapkan dua badan ini bisa bekerja sama dengan baik," tutur dia.

PSSI, kata Tisha, dalam waktu dekat membentuk Komite Adhoc Integritas yang tugasnya untuk mendeteksi, mencegah dan merespons terhadap isu integritas pada sepak bola Indonesia.  Tisha mengungkapkan, pendirian Komite Adhoc Integrity merupakan cikal bakal terbentuknya departemen khusus di bawah kesekjenan PSSI yang menangani masalah integritas.

Rencananya, departemen tersebut akan dibentuk PSSI pada tahun 2020. Nantinya, kata Tisha, Komisi Adhoc Integritas akan memberikan masukan atau bukti-bukti serta pengamatan di lapangan terkait pola praktik perjudian (betting pattern).

Dalam pertemuan ini AFC memberi gambaran umum terkait penanganan kasus match fixing di Asia, seperti yang terjadi di Nepal, Thailand, China, Jepang, dan beberapa negara lainnya. "Makanya, kami tadi belajar beberapa kasus yang pernah ditangani oleh member association AFC, seperti apa saja yang sudah pernah mereka lakukan, terutama yang hubungannya kolaborasi dengan kepolisian," jelas Tisha.

Karobinops Sops Polri, Brigjen Polisi Imam Sugianto mengatakan, Polri dan PSSI memang perlu berkolaborasi dan bersinergi. Karena itu akan lebih baik jika dituangkan dalam MoU. “Dengan adanya sinergi, maka kita akan tahu tugas pokok dan fungsi masing-masing,” kata Imam.

sumber - www.pssi.org.

Tuesday, January 15, 2019

Tiga Musim di Liga 3, Mentok 16 Besar Nasional Part 2



Liga 3 2017 Kalah Dari Tuan Rumah
Melangkah ke Liga 3 2017. Deltras perlahan mulai membenahai semuanya dan menatap ke arah yang lebih baik. Dapat dilihat dari gebrakan awal. Mulai dari mampu menggandeng apparel jersey lokal, beberapa sponsor lokal juga mulai tergiur berkejasama dengan Deltras untuk mengarungi Liga 3 2017.

Lima pemain senior Deltras saat itu sepertinya dimanfaatkan benar oleh Deltras untuk membabat habis lawannya di fase grup. Lima pemain senior itu adalah Wimba Sutan Fanosa sekaligus kapten tim (striker), Sutrisno Hardi (striker), Achmad Setiawan (bek kiri), Papang (kiper), dan M. Zainal Abidin (gelandang). Sisanya, pemain lokal sidoarjo dan hasil seleksi dari pemain luar kota. Arsiteknya masih Harmadi dibantu dengan assisten pelatih Adi Putra Setiawan dan pelatih kiper kawakan Yono Karpono. Format Liga 3 2017 saat itu sebenarnya tak terlalu jauh perjalananannya. Hanya saja, ada tiga tim saja yang memperebutkan tiket lolos ke Liga 2, dari 32 tim di babak nasional.

Deltras sempat mendapat prestasi lumayan bagus di zona Provinsi Jatim. Dengan mengukuhkan diri sebagai juara tiga mengalahkan Persekabpas Pasuruan dengan skor 2-0. Masuk babak 32 nasional, undian tim seakan tak berpihak kepada Deltras. Karena, meski seharusnya bermain di venue netral, tetap saja ujung-ujungnya Deltras harus meladeni perlawanan tuan rumah Persik Kendal di babak 16 besar. Apalagi dengan sistem knock out, alias kalah langsung gugur.

Sempat lolos fase grup babak nasional, Deltras keluar sebagai juara grup. Sedangkan tuan rumah Persik Kendal berstatus runner up grup sebelah. Mereka bertemu di 16 besar. Dengan dukungan tuan rumah, dan support penuh dari bupati Kendal saat itu. Persik akhirnya sukses membungkam asa Deltras dengan skor 3-1. Deltras kalah dan mengubur impiannya ke Liga 2.

Liga 3 2018 Coba Bangun Lagi
Di Liga 3 2018, Deltras akhirnya mencoba membangun kekuatan lagi. Seperti tim pada umumnya, banyak pemain keluar dan masuk. Mulai dari tim pelatih dan pemain senior. Mantan pelatih Persegres Gresik di Liga 1 2017, Hanafi didapuk sebagai pelatih kepala. Dia membawa juga beberapa pemainnya eks Persegres seperti, gelandang Danny Alvianes dan bek muda Galih Maulana. Juga ketambahan gelandang senior arek Sidoarjo, Arif Ariyanto. Wimba Sutan juga masih bertahan. Serta beberapa pemain hasil seleksi lainnya.

Sebenarnya, di fase grup jalan Deltras dapat dibilang tak terlalu berat. Meskipun, mereka harus mengawali kompetisi dengan min enam poin. Karena, masalah gaji eks pemain asingnya Mijo Dadic di ISL 2011 silam belum terbayarkan. Dan sang pemain sampai mengadu ke FIFA dan sampai ke PSSI. Serta diputuskan Deltras menjalani Liga dengan mendapat pengurangan enam poin.

Tetapi, itu tampaknya bukan masalah serius. Deltras buktinya masih dapat menjadi juara di fase grup. Dan lolos ke babak 12 besar Jatim. Meskipun, 11 tim yang lolos di 12 tersebut otomatis lolos ke fase zona Jawa. Dan semifinal serta final seakan tak berarti apa-apa. Tetapi, tetap saja masih miliki laga gengsi juga. Deltras akhirnya hanya meraih peringkat empat saja. Setelah dalam laga semifinal mereka kalah dari tuan rumah Persekabpas Pasuruan, dan lebih parahnya kalah lagi di perebutan juara tiga dari PS. Kota Pahlawan.

Setelah melewati jalan zona Jatim. Tim fokuskan diri ke zona Jawa. Fase penting untuk dapat lolos ke babak 32 besar nasional, bergabung bersama perwakilan tim dari zona provinsi lainnya dan tim yang terdegradasi dari Liga 2 2017.

Di zona jawa, pertandingan dimainkan dengan mengacu hasil undian dan sistem home away. Di laga perdana, Deltras berhasil melewati hadangan Lamongan FC. Deltras berhasil menang 5-0 di laga kandang dan kembali meraih poin tiga dengan skor 1-3 di Surajaya Lamongan.

Deltras lolos ke babak ke-II. Di babak ke-II, sesuai bagan, Deltras bertemu Persema Malang. Hasil mengejutkan terjadi di Stadion Gajayana Malang. Deltras harus ditekuk dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang Persema di cetak melalui tendangan pinalti. Di leg ke-2 bermain di Gelora Delta, Deltras tak mampu memanfaatkan situasi. Hanya butuh dua gol saja tanpa kebobolan. Deltras harus rela kebobolan satu gol. Meski skor akhir menang 2-1. Tetapi Persema unggul melalui gol away.

Akhirnya dengan kekalahan tersebut, kembali menunda harapan Deltamania yang ingin menyaksikan Deltras di Liga 2. Meskipun, dalam Liga 3 2018 kemarin perjalanan Deltras dapat dibilang lebih lama dan berat. Dibandingkan tahun 2017. Di 2017 perjalanan Deltras dapat dikatakan terbagi dua sesi saja, yakni sesi pertama zona provinsi Jatim dengan fase grup, 16 besar, semifinal dan final. Sesi kedua langsung melanjutkan langkahnya ke babak 32 besar nasional.

Sedangkan di Liga 3 2018, terbagi dengan tiga sesi. Sesi pertama zona Jatim dengan fase grup, 12 besar, semifinal dan final. Sesi kedua zona Jawa dengan 32 tim diambil empat tim saja untuk 32 besar nasional.  Sesi ketiga, fase grup 32 besar nasional dan langsung knock out. Dengan enam tim yang promosi ke Liga 2 2019.

Dengan hasil tersebut, lagi-lagi. Deltras masih terjerembak di Liga 3 untuk 2019. Teka-teki manajemen, pemain, dan pelatih masih belum ada informasi. Regulasi dan jadwal Liga 3 pun juga belum keluar sampai saat ini.

selesai..
Tulisan : Muchammad Ainul Budi




Tiga Musim di Liga 3, Mentok 16 Besar Nasional Part 1




DELTACYBER – Terakhir Delta Putra Sidoarjo (Deltras) mencicipi kasta tertinggi saat berlaga di Indonesia Super League (ISL) 2011. Di ISL 2011, menjadi ISL ketiga bagi Deltras. Sebelumnya tim kebanggaan Deltamania ini juga pernah bermain di ISL, pada musim 2008 dan 2010.

Tetapi, bukan malah bertahan saja di ISL. The Lobster julukan Deltras, harus terlempar dari kompetisi paling tinggi Liga Indonesia tersebut. Di klasemen akhir, Deltras berada di peringkat ke-17, dua dari bawah. Dengan raihan 35 poin, hasil sembilan kali menang, delapan kali seri, dan menelan 17 kekalahan.

Degradasi di Divisi Utama 2014
Setelah degradasi. Deltras bermain di Divisi Utama 2013. Di kasta kedua musim itu, The Lobster tak mampu kembali ke ISL, namun tetap bertahan di Divisi Utama. Musim selanjutnya, 2014. The Lobster akhirnya benar-benar terjun bebas.

Tergabung di Grup 6 kala itu, dengan delapan tim. Deltras harus puas menjadi tim juru kunci, dibawah Perseta Tulungagung yang juga terdegradasi. Satu grup diambil dua tim yang degradasi. Dan dua teratas melaju ke fase babak delapan besar. Yakni Borneo FC dan Martapura kala itu. Mirisnya, dari 14 pertandingan, Deltras hanya mampu menang dua kali, seri lima kali, dan kalah tujuh kali. Dengan total meraup 11 poin saja.

Asa di Musim 2015
Nah, usai turun kasta. Di tahun 2015 sebenarnya manajemen saat itu terlihat keseriusannya membentuk sebuah tim dengan target tinggi. Kalau Deltamania mengamati benar, saat itu 2015 Liga Nusantara The Lobster mencoba menggabungkan beberapa pemain kawakan dan pemain muda asli arek Sidoarjo. Eks alumni Deltras U-21 seperti Sutrisno Hardi, Achmad Setiawan, Basuki, Papang Nurjaman, Mahardhika, Rifky Sholekhudin masih menghiasi tim Deltras. Ditambah pemain senior kala itu yang masih aktif, seperti Jefry Dwi Hadi, Uston Nawawi, Wimba Sutan Fanosa sampai legenda Persebaya yang akhirnya mau berjersey Deltras, yakni Mat Halil.

Dengan pelatih kepala Harmadi, Deltras saat itu jadi tim yang disegenai untuk bisa kembali ke Liga 2. Bahkan, beberapa ujicoba serta latihan rutin sudah digelar jauh jauh hari. Sayang, 2015 pula PSSI dibanned FIFA dan taka da kompetisi.

Akhirnya, beberapa pemain eks 2015 tersebut dimasukan ke dalam tim Sidoarjo United di kompetisi ISC B 2016. Yang mengisi kekosongan slot Persida Sidoarjo yang saat itu tak mampu mengikuti kompetisi karena berbagai hal. Di 2016 pula, Deltras pertama kalinya juga turun di Liga 3 atau Liga Nusantara. Dengan hanya mengandalkan pemain muda asli Sidoarjo hasil seleksi, Deltras seakan jadi tim compang camping. Sebab, tim utamanya sudah masuk semua ke Sidoarjo United. Termasuk Mat Halil dan Jefry Dwi Hadi. Sementara, Uston lebih memilih menjadi pelatih tim lain dan Wimba bergabung ke Persik Kediri.

2016 Tanpa Kemenangan
Di tahun 2016, catatan buruk terus menghampiri tim besutan pelatih Puji Daryo. Tergabung di Grup 4 bersama Perseta Tulungagung, Blitar United, Persikoba Batu, dan Persema Malang 1953. Deltras berada di posisi buncit klasemen akhir. Parahnya, hanya sekali seri poin yang dapat diraih. Sisanya Deltamania dibuat gigit jari dengan rentetan kekalahan. Namun, kompetisi 2016 saat itu juga tak ada promosi dan degradasi. 2016 memang ibarat hanya asal ikut kompetisi saja. Karena memang liga saat itu ibarat liga tarkam saja. Mulai dari ISC A atau Liga 1, ISC atau Divisi Utama, dan Liga Nusantara atau Liga 3.

bersambung...

Monday, December 31, 2018

Mantan Manajer Deltras Menyerahkan Diri ke Kejari Sidoarjo

Ditahan : Vigit Waluyo, akan mendekam di hotel prodeo selama 1,5 tahun

DELTACYBER - Terakhir kali nama Vigit Waluyo (VW) menjadi bagian penting dalam manajemen tim The Lobster julukan Deltras Sidoarjo, yakni saat menangani tim di musim 2010. Dalam kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2010, The Lobster menjadi tim kuda hitam dengan status tim promosi dari Divisi Utama 2009 kala itu.

  Tetapi, selepas itu, VW seakan sudah lepas dari cawe-cawe ngurusi Deltras. VW memang dikenal sebagai manajer tim bola di Indonesia. Sepak terjangnya sudah lama melintang di Liga Indonesia. Namun, di ISL 2010 itu juga, VW terjerat kasus.

  VW terjerat kasus korupsi yang melibatkan Dirut PDAM Sidoarjo kala itu, Djayadi. Saat itu, PDAM Sidoarjo mencairkan dana kepada Deltras sebesar Rp 3 M. Padahal, seharusnya dana tersebut tidak boleh dicairkan PDAM, karena itu bukan kewenangannya.

  Pencairan dana tersebut dilakukan secara bertahap.Yakni pada tanggal 16, 18 dan 19 bulan Agustus 2010. Meski sudah dilarang dewan pengawas, Djayadi akhirnya tetap mencairkan dana tersebut dengan status dana pinjaman kepada VW untuk Deltras.

  Djayadi sendiri sudah dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo dan dijeploskan ke hotel prodeo. Djayadi divonis 1,8 tahun sejak awal tahun 2017 lalu. Informasi yang dihimpun redaksi Deltacyber, Djayadi sudah keluar tahanan pada bulan puasa tahun 2018 lalu. Sementara VW, saat itu masih berstatus buronan Kejari Sidoarjo, masuk dalam list Daftar Pencarian Orang (DPO).

  VW sebenarnya sempat dinyatakan bebas. Dalam proses banding di Pengadilan Tinggi (PT). Namun, pihak penuntut umum masih mengajukan kasasi. Akhirnya vonis dari Mahkamah Agung (MA), VW dijatuhi hukuma selama 1,5 tahun. Salinan putusan MA diterima Kejari Sidoarjo pada Juni 2017 lalu.

  Sempat buron cukup lama. Juga akhir-akhir ini nama VW disebut-sebut terlibat dalam pengaturan skor dan sebagai mafia. Dalam acara talk show di sebuah stasiun televisi swasta. Nama VW menjadi trending topik, bagi seluruh pencinta si kulit bunda dalam negeri.

  Namun, akhirnya VW menyerahkan diri ke Kejari Sidoarjo. VW didampingi keluarganya menyerahkan diri pada tanggal 28 Desember kemarin.

"Vigit datang dengan diantar keluarganya. Dia menyerahkan diri Jumat malam lalu. Sekarang sudah kami tahan di Lapas Delta, " kata Budi Handaka, Kepala Kejaksaan Negeri Sidoarjo. (bud)
 





VW Sukses Bawa Promosi Sampai Tak Sanggup Bayar Gaji Pemain

Vigit Waluyo : Manajer Deltras kala itu, Vigit Waluyo

Promosi ke ISL 2010 Sampai Akhirnya Pindah Manajemen

DELTACYBER – Klub Delta Putra Sidoarjo (Deltras) memang pernah Berjaya di kompetisi Divisi Utama musim 2009. Kala itu, The Lobster julukan Deltras mampu menjadi tim jago kandang, dengan tak pernah menyentuh kekalahan saat bermain di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Malah, pernah mendapat julukan tim raja pinalti dari suporter lawan, saat menghadapi Deltras.

Di musim 2009 itu Fery Aman Saragih dkk, akhirnya mampu melewati fase grup dengan mulus. Juga saat berlaga di babak delapan besar, yang juga dihelat di GDS. Di semifinal pun, The Lobster berhasil melewati hadangan Kabau Sirah julukan Semen Padang. Sekaligus memastikan diri promosi kembali ke Indonesia Super League (ISL) 2010. Karena hanya tiga tim yang diambil untuk lolos ke ISL 2010.

Meskipun di partai puncak DU 2009 saat itu, Deltras harus mengakui keunggulan Persibo Bojonegoro melalui babak tos-tosan adu pinalti. Namun, yang terpenting, adalah tiket promosi kembali ke ISL. Sebelum bermain di DU 2009, Deltras berstatus tim degradasi. Dari kompetisi ISL gelaran perdana musim 2008.

Di jaman itu, kesuksesan The Lobster tak lepas dari kerja keras official, pemain, dan jajaran pelatih. Selain mereka, Deltras saat itu masih dimanajeri Vigit Waluyo (VW). Yang sekarang ini, menjadi trending topik dengan kasus menimpa dirinya.

     Dengan isu-isu mengenai mafia dan pengaturan skor yang melibatkan dirinya. Apalagi, namanya disebut-sebut dalam sebuah acara talk show di televisi swasta beberapa waktu lalu. Juga di channel youtube presenter kenamaan, Najwa Shihab.

Di ISL 2010, Vigit Waluyo pun masih menangani Deltras. Namun, saat itu, sang putri Ayu Sartika lah yang maju menjadi manajer. Tetapi, Vigit Waluyo juga masih cawe-cawe Deltras kala itu.

Jalan terjal ISL 2010 memang berat. Naik kasta ke liga teratas pun dilalui Deltras dengan tertatih-tatih. Julukan jago kandang masih tersemat di Deltras saat masih bermain di GDS. Namun, kalau sudah melakoni laga away. Berharap satu poin pun sudah realistis kala itu. 

Kompetisi saat itu akhirnya menyisakan problem bagi Deltras. Pihak manajemen ternyata meninggalkan permasalahan. Masalah klasik, gaji pemain yang tertunggak masih saja menghantui tim. Gaji Marcio Souza cs harus tertunggak beberapa bulan di akhir musim. Dan manajemen tak mampu membayar gaji tersebut. Meskipun mereka berhasil menyelamatkan tim dari zona degradasi, dan bertahan di ISL 2011.

Hasilnya, manajemen baru Deltras untuk ISL 2011 datang. Mereka adalah Mafirion cs bersama anaknya Yudha Pratama, mantan manajer futsal tim nasional. Mafirion sendiri juga berstatus mantan pengurus PSSI kala itu.

Mereka akhirnya mampu melunasi gaji-gaji para pemain, dan mengambil alih manajemen dari tangan Vigit Waluyo dkk berpindah ke Mafirion. Dan membuat PT, bernama PT Delta Raya Sidoarjo (sampai sekarang, meskipun berlaga di Liga amatir, Liga 3).

Berbicara mengenai VW. Tentu tak lepas dari alm. H. Mislan. Ayah dari VW, yang juga pendiri dari Gelora Dewata. Cikal bakal Gelora Putra Delta tim plat merah Sidoarjo, sebelum berubah nama menjadi Delta Putra Sidoarjo (Deltras) hingga sekarang. VW dimasanya, era 2000-an memang dikenal sebagai manajer. Semasa bergeliat di olahraga kulit bundar, dia dikenal oleh kalangan pelaku sepakbola, mulai dari pemain dan pelatih memang berstatus manajer sebuah tim.

Sampai pada akhirnya, sekarang di berstatus bukan lagi sebagai manajer tim bola. Tetapi menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo. Karena terlilit kasus korupsi PDAM Sidoarjo dengan kerugian negara sebesar Rp 3 Milyar.

Dan pada tanggal 28 Desember lalu, VW akhirnya menyerahkan diri ke Kejari Sidoarjo. Dia diantarkan langsung oleh keluarganya menghampiri kantor Kejari Sidoarjo. Dan kini, VW berstatus sebagai tahanan kejaksaan, serta akan melanjutkan kasusnya ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) nantinya. (bud)

Tulisan : Muchammad Ainul Budi

Wednesday, December 26, 2018

Ayo Order T-Shirt Anniversary 18th Deltamania


OPEN PRE ORDER
T-shirt : Anniversary 18th Deltamania
——————————
Harga : Rp.9O.OOO
DP      : RP.5O.OOO(Lunas lebih baik)
+Rp.5OOO (lengan panjang/size diatas XL)
Free Stiker
——————————
Spesifikasi :
•Cotton Combed 30s
•Sablon Plastisol
——————————
Pembayaran terakhir 15 Januari 2019
Produksi 16 Januari 2019
——————————
Info pemesanan :
Redhabit : 08998189700
Aragosta.id : 085808400766
Darjofans merchandise : 081808354562
Sobat merch : 08985508823
Lobster abang : 083835532444
Deltafams : 083835546915
Supit urang wear : 085704938707
Lobstore : 085646584293
Kemiri store : 088803214481

Nb: dengan membeli official Merchandise ini, maka kalian ikut serta berkontribusi dalam terselenggaranya acara Anniversary 18th Deltamania nanti.

Monday, December 24, 2018

Kami Kembali Update Rek !



Salam Redaksi.
Asalamualaikum.
Deltras fans, Deltamania dan Deltanita.
Setelah sekian lama media kami tidak update dalam hal memberi informasi tekait tim Deltras Sidoarjo dan suporter Deltamania. Kini, sekarang kami mencoba update kembali.
Mohon maaf apabila beberapa akun sosial media kami vakum pemberitaan tim kebanggaan kita semua. Dikarenakan beberapa kendala dari tim redaksi, yang tidak bisa ditinggal. Mengenai pekerjaan atau kesibukan kami lainnya.
Saran dan kritik untuk membangun media ini kedepan. Akan selalu kami terima.
Walaikumsalam..

SALAM VIRUS DAMAI
#DeltamaniaNeverGiveUp

Saturday, July 28, 2018

Fakhri Husaini : Anak-anak Sangat Antusias Untuk Piala AFF U-16

Fakhri Husaini : di sesi latihan Timnas U16 [foto : M.Ainul]

DELTACYBER - Perjalanan Garuda Asia julukan Timnas U-16 di turnamen Piala AFF U-16 kali ini bakal dimulai dalam laga perdanan nanti malam (29/7) melawan Filipina di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, kick off pukul 19.00 Wib.

Persiapan yang dilakukan Timnas muda sendiri terbilang cukup panjang. Tim besutan pelatih kepala Fakhri Husaini tersebut bahkan sudah memulai TC (Pemusatan Latihan) di Sidoarjo sejak tanggal 20 Juni lalu. Juga menggelar beberapa ujicoba melawan tim lokal, dan sempat menjajal Timnas Malaysia dan tim lokal U17 Malaysia di negeri Jiran beberapa waktu lalu.

Evaluasi jelas sudah dilakukan Fakhri. 27 Pemain yang sempat mengikuti TC, akhirnya dipangkas menjadi 23 pemain yang sudah didaftarkan untuk Piala AFF ini. Dalam sesi konferensi pers di Hotel Java Paragon kemarin sabtu siang (28/7) Fakhri menyebut bahwa timnya semangat memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

"Kami datang dengan motivasi tinggi. Anak-anak juga sangat antusias menyongsong turnamen ini. Persiapan sudah kami lakukan selama empat pekan di Sidoarjo." ungkap Fakhri.

Pelatih berkepala pelontos tersebut juga meminta para pemain mudanya untuk tampil lepas dan tanpa beban serta selalu menghormati semua lawan. Sementara di kubu lawan Indonesia nanti malam, Filipina. Pelatih kepalanya Reiji Hirata tetap bakal memberikan perlawanan berarti kepada Indonesia.

"Kami tahu Indonesia tim kuat, mereka juga didukung oleh suporternya. Tim kami sudah siap untuk itu. Kami coba berikan yang terbaik saat lawan Indonesia nanti,” ujarnya. (*)