Jumat, 08 Maret 2013

Menengok Kesetiaan Publik Sidoarjo

Menengok Kesetiaan Publik Sidoarjo
                Kejenuhan dan kebosanan barangkali mungkin sudah menjadi sesuatu yang akrab dengan supporter Deltras Sidoarjo, Deltamania. Bagaimana tidak, Klub kesayangan mereka Deltras, akhir-akhir musim ini selalu naik turun grafik permainannya.
                Musim lalu, Deltras berlaga di Indonesia Super League kasta tertinggi Sepak bola Indonesia dibawah naungan PT. Liga Indonesia. Tapi naas saat pemain-pemain bintang berdatangan macam sebut saja Budi Sudarsono, Mijo Dadic, Wawan Hendrawan serta kembalinya Juan Revi, Purwaka serta Waluyo tak mampu membuat Deltras bersaing setidaknya di klasemen papan atas. Justru mereka terpontang panting di zona degradasi dan akhirnya mereka harus kembali berlaga di pentas Divisi Utama seperti 2 musim yang lalu.
                Start dari nol pun kembali dimulai. Perlahan Deltras bangkit dan mulai menjalani seleksi pemain hingga akhirnya terbentuk squad yang ada saat ini (Cek squad Deltras musim ini di http://www.deltras-fc.com/squad/) . Menengok jumlah supporter yang hadir di 3 Pertandingan DU (Re: Divisi Utama) musim ini memang terlihat penurunan Deltamania yang hadir ke Stadion. Tengok di Pertandingan pembuka saat awaydays kontra Persekam Metro FC di Kanjuruhan Malang, Tidak lebih dari 500 Deltamania yang hadir disana. Saat awaydays kedua kontra Persid Jember, juga tak lebih 300-an saja yang berangkat. Dan saat pertandingan Home pertama lawan Perseba Bangkalan, tidak lebih dari 5000 penonton yang hadir di GDS. Lihat masih banyak bangku VIP Utama dan Ekonomi yang terlihat kosong tanpa penghuni.

Sebenarnya memang yang saya amati penonton di Sidoarjo ini, tidak lepas oleh pemikiran tentang “Glory Hunter”, yaitu mendukung jika hanya tim tersebut mengalami grafik kemenangan dan cenderung malas mendukung jika mengalami tren kekalahan beruntun.
                Faktanya kita lihat pertandingan ISL musim lalu, setelah bermain kandang 4 kali berturut-turut kontra PSMS, Mitra Kukar, Persisam dan Persidafon yang semua berakhir tanpa kemenangan, membuat Deltamania enggan berangkat ke GDS saat pertandingan Persiwa dan Persipura. Memang ada yang berangkat tapi panpel menyatakan hanya sekita 1500-2000 tiket yang terjual pada saat itu. Well ISL? 
  Sidoarjo memang ‘galau’ soal supporter sepak bola yang ada di kota udang. Tidak munafik, Kota ini juga sudah dikuasai oleh supporter Bonek dan Aremania. Sementara yang ‘Sadar’ untuk mendukung tim lokalnya memang masih terbilang labil. Tapi meski berapapun yang hadir di Stadion mereka patut diacungi jempol. Pengorbanan membolos sekolah, ijin kerja hingga nyawa pun jadi taruhan seketika musnah saat melihat Deltras meraih kemenangan. 

                Suporter yang tetap setia inilah yang membuat sepak bola kita tetap menarik untuk dinikmati, untuk tetap dijaga agar terus ada, dan tetap menarik untuk dituliskan. Tanpa kehadiran mereka, sepak bola tak ubahnya sayuran yang tanpa garam. Suporter ini sendiri nantinya bisa dilihat sebagai potensi bisnis untuk membantu keuangan klub. Dan yang juga penting, suporter patut mendukung tim secara positif, bukannya membuat kericuhan dan terus memelihara kesetiaan mereka bagi klub tercinta. Semoga publik Sidoarjo senantiasa setia pada Deltras yang sedang berproses untuk bangkit dan berusaha menjadi salah satu klub top di Indonesia.
Artikel From =  Rahmadio Fahmi Kurniawan (@RahmadioF)

0 komentar:

Posting Komentar