Selasa, 01 April 2014

Desa Pencetak Bintang Lapangan Hijau


TAK ada yang istimewa dari Dusun Klagen, Desa Wilayut. Daerah yang masuk Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, tersebut pun sepi karena banyak warganya yang kerja di sawah, ataupun duduk di warung kopi. Ada juga yang masih berada di Surabaya karena masih mengais rezeki.
Tapi, ada yang istimewa dari desa yang sudah berbatasan dengan Kecamatan Wonoayu tersebut. Siapa sangka, banyak bintang lapangan hijau dari Klagen.Siapa saja? Di level senior sebut saja Uston Nawawi dan Nurul Huda.

Uston merupakan gelandang andalan Green Force, julukan Persebaya, diera 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Kostum nasional pun pernah dikenakannya dalam kurun waktu 10 tahun lebih. Lelaki kelahiran 1978 itu pun pernah menimba ilmu di Italia melalui program PSSI Baretti.
Hanya kurang sreg dengan pengurus yang membuat Uston hengkang ke beberapa klub seperti Persidafon Dafonsoro ataupun Gresik United (GU). Tapi tetap harus diakui Uston termasuk salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Nurul Huda lebih senior lagi. Pemain kelahiran 1976 tersebut dibesarkan melalui program PSSI Primavera yang juga digembleng di Negeri Pizza, julukan Italia. Di antara para pemain PSSI Primavera, Huda, sapaan karibnya, merupakan segelintir yang masih bertahan di level atas sepak bola Indonesia. Selain Huda hanya Bima Sakti yang membela Persema Malang di ajang Indonesia Super League (ISL) sebelum menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI). Sementara Huda, hampir empat musim berkostum Persijap Jepara. Sebelumnya, pemain yang beroperasi sebagai bek itu memperkuat Pelita Jaya, Delta Putra Sidoarjo (Deltras), PSIS Semarang, dan Persijap Jepara.

Ada juga di kelompok senior yakni Sutaji. Gelandang kelahiran 1975 ini pernah membela Persebaya sebelum hengkang ke PSIM Jogja, PSS Sleman, Deltras, Arema, dan terakir Persema. Bedanya dengan Uston dan Huda, Sutaji tak pernah berkostum Merah Putih sebagai pemain nasional.

Arek Klagen lainnya yang kini berkostum Garuda di dada adalah Hariono. Breaker Merah Putih ini dikenal sebagai pemain yang pantang takut dan menyerah dalam memotong aliran serangan lawan. Kini, dia memperkuat Persib Bandung setelah sebelumnya membela Deltras.

Selain itu ada juga Lucky Wahyu. Dia tercatat pernah membela Indonesia di SEA Games 2009 Laos dan kini membela Persebaya 1927. Sayang, saat Persebaya 1927, kebintangan Lucky redup karena coach Aji Santoso tampaknya kurang berkenan dengan tipe permainannya.

Sudah habis? Belum. Masih ada Arif Ariyanto. Meski kurang menonjol., pemain kidal ini sudah sejak 2005 berkostum Green Force. Yang terbaru bintang dari Klagen adalah Rendi Irwan. Posturnya yang mungil mampu ditutupinya dengan skill kelas wahid.
Wajar kalau Persebaya 1927 sangat kepincut dengan kemampuannya. Hanya, dia kurang beruntung karena kemampuannya belum dilirik timnas.

Para pemain bintang tersebut lahir dari sebuah lapangan yang berada di sisi jalan yang menghubungan Sukodono dan Krian, yang juga masuk wilayah Sidoarjo. Jangan bayangkan lapangannya selevel Senayan ataupun Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.

Lapangan Klagen kalau hujan becek dan jika musim kemarau sangat keras. Di sebelah selatan lapangan ada beberapa pohon pisang, sebelah baratnya kantor kelurahan, serta utaranya sebuah sungai kecil.
Lahirnya para bintang dari Klagen membuktikan bahwa factor lapangan tak banyak memberikan pengaruh. Yang penting adalah kemauan keras untuk menjadi bintang dan latihan yang serius. (*)

sumber - pinggirlapangan.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar