Kamis, 17 April 2014

The Lobster Muda Harapan Musim Ini


Siapa tidak kenal Arsenal, tim dengan 13 Trofi Premier League yang kini bercokol di peringat 4 itu merupakan tim yang dikenal memiliki skuad muda yang sangat mumpuni. Aron Ramsey, Jack Wilshere, Alex Chamberlain dll. Merupakan segilintir pemain yang sukses ‘diangkat’ oleh sang manajer, Arsene Wenger. Dengan filosofi mencetak pemain bintang bukan membeli (seperti halnya Real Madrid) membuat Arsenal terlihat fresh dan cepat dalam bermain. Tapi, 9 tahun tanpa gelar adalah sebuah hukuman, meskipun pemain bermain baik tapi apa daya jika tanpa gelar selama sewindu lebih? Hell.

Apa yang dirasakan Arsenal fans, gooner they said. Sekarang dirasakan lebih pesakitan oleh supporter tim lokal kebanggan saya, Delta mania. Mungkin tulisan saya ini terlalu tinggi dengan membandingkan tim sekelas Deltras dengan Arsenal tapi ini hanya sekedar sebuah tulisan dan opini. Menjudge terlalu dini memang dikatakan Deltras hampir tidak mungkin untuk ‘Comeback’ ke Indonesia Super League musim depan.

 Dengan ketatnya persaingan yang terbagi dalam 8 grup, rasanya bendera putih sudah dikibarkan setidaknya saat tim ini melakukan persiapan jelang musim bergulit yang sangat minim. Di laga perdana kemarin (15/4) sudah terlihat ketidak becusan manajemen dalam menangani tim ini. Entah apa yang dipikirkan oleh Panpel pertandingan. Saya melihat jam tepat pkl. 15.15 Wib atau 15 menit sebelum kick off, loket tiket tribun Ekonomi yang biasanya sudah dibuka pkl. 14.00 terlihat masih tutup. Hanya tiket VIP dan Utama yang telah dibuka. Mayoritas Delta mania memang penghuni tribun tanpa atap, betapa marahnya mereka dengan menjebol pintu sektor 6. Tapi anehnya tak ada polisi yang menghadang aksi mereka.

Di dalam stadion yang sudah dibumbui oleh warna baru ini terlihat sepi, sunyi, seperti halnya tak ada pertandingan dihari itu. Mungkin sudah biasa melihat tribun Gelora Delta tak penuh. Tapi kemarin, tak ada ekspektasi sama sekali. Seakan-akan Panpel melarang penonton untuk masuk.

Melihat starting eleven, tak ada pemain asing didalam skuad The Lobster. Mengandalkan pemain berusia muda. 22 tahun rata-rata. Dalam benak saya mungkin pemain-pemain lokal ini terlihat jago seperti Aron Ramsey dkk. Tapi nyatanya, mereka bermain seperti belum pada levelnya. Terlihat tak ada kordinasi antar lini. Umpan-umpan pendek yang sering putus ditambah postur yang kalah mencolok dengan pemain Martapura FC yang dikomandoi mantan bek sayap timnas, Isnan Ali. Harapan saya hanya tinggal kebanggaan dan semangat dalam diri pemain.

Di babak I, Martapura FC yang terlihat dominan. Seringkali mereka mengancam penjaga gawang terbaik Copa Indonesia 2010, Syaifuddin. Deltras bukan tanpa peluang, soloran Yoga Wahyu Prasetya disisi kiri gagal dimanfaatkan si nomer punggung 10, Ardiansyah. Hampir 35 menit berjalan saya sudah berfikir tidak kebobolan merupakan hal bagus untuk tim ini tapi justru Deltras membuat kejutan. Dimenit 41, tendangan bebas Fathur Rony, yang merupakan mahasiswa UNESA, membuat saya berteriak GOOLLLL….!. Bola yang kasat mata dari sudut pandang saya tidak terlihat mengenai jaring gawang disahkan oleh sang pengadil karena sudah melewati garis. 1-0 Deltras lead.
 Sontak membuat hati saya sedikit tenang dan tidak meminum pil jantung seperti menonton roller coaster saat Manchester United bermain. Saat half time, saya hanya berfikir, Deltras harus mempertahankan kedudukan ini dan memperkuat lini pertahanan yang sering rapuh dihancurkan oleh pemain asing Martapura FC.

Tak berselang lama saat kick off babak ke 2 ditiup. Gol balasan Martapura FC lahir. Tendangan bebas dari jarak sekitar 2 meter dari depan kotak pinalti sukses dimaksimalkan oleh Isnan Ali. Booommm….1-1. Impas.
 Terdiamlah GDS.  Gol yang sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu. Hingga peluit akhir pertandingan tak ada gol tambahan. Hasil pertandingan yang menurut saya fair bagi kedua tim. Statistik pertandingan dikuasai oleh tim tamu. 8 shot on target hanya berbalas 3 oleh tuan rumah. Ball possession? 45-55 yang menggambarkan pertandingan benar-benar dikuasai oleh tim tamu.
Saat konfrensi pers, pelatih Deltras, Riono Asnan mengaku puas dengan hasil yang didapat. Meskipun bermain seri dikandang tapi semangat juang pemain ia apresiasi. Hanya kurang finishing touch yang masih lemah.

Hari yang membosankan. Sudah dalam 2 tahun terakhir tak ada keriuhan yang tampak saat Deltras berlaga. Puluhan ribu penonton yang biasanya hadir kini tinggal ribuan yang masih setia. Hanya kemenanganlah yang membuat kita semua warga Sidoarjo kembali tersenyum, setidaknya itu. Meilhat berita dikoran atau media Deltras meraih kemenangan merupakan hal yang sangat membahagiakan bukan?. Deltras tetaplah Deltras, tim yang cukup disegani di Jawa Timur dengan warna keberanian, Merah Merah. Meskipun tak pernah mencicipi gelar juara, namun membawa Kota ini kebanggaan dan dikenal masyarakat luas sudah merupakan trofi.

Apakah Deltras kembali terpuruk? Atau terus berjuang menjaga asa untuk lolos ke babak berikutnya? Bberharap melawan Persepar besok, semangat itu kembali menggelora. 3 poin adalah harga mati. Meskipun saya juga tak begitu yakin. Jadilah supporter kritis terhadap tim kesayangan anda. Karena dengan inilah mereka tau penilaian orang diluar sana. Yang penting positif dan sifatnya membangun.
Kembali bersabar, Delta mania? Entahlah. Tapi bersiaplah. Saya yakin dibalik fikiran anda, terselip kritikan pedas terhadap manajemen Deltras saat ini.

Artikel - By @rahmadiofk

0 komentar:

Posting Komentar