Sabtu, 07 Juni 2014

Kelezatan Rawon dari sang Kiper

PERSIAPAN : Agung prasetyo di depa stan (foto:sidiq)

AWALNYA, saya tak percaya kalau Agung Prasetyo menekuni bisnis kuliner. Namun, teman yang kali pertama memberitahukan aktivitas kiper senior itu begitu ngotot bahwa apa yang disampaikannya benar.

 Saya pun penasaran. Ini dikarenakan selama kenal dengan lelaki yang kini berusia 36 tahun tersebut tak pernah bercerita bakal terjun ke dunia kuliner. Bahkan, Agung pernah bercerita, suatu saat dia ingin terjun di bisnis pakaian.

 Saat itu, saya pun langsung mencari stan Agung menjajakan kulinernya. Ternyata tak susah mencarinya alamat yang diberikan teman tempat kiper yang sukses mengantarkan Jatim meraih emas PON 2000 itu menjajakan makanan.

 Dari Pasar Wage, Kecamatan Taman,Sidoarjo, stan Agung berjarak kurang lebih 300 meter. Nama stannya, Rawon Agung.

 Kali pertama, saya pun ragu-ragu masuk. Namun, akhirnya saya pun memberanikan diri untuk melihat dari dekat. Barulah saya yakin bahwa kiper yang sempat masuk dalam jajaran penjaga gawang papan atas Indonesia tersebut menekuni bisnis kuliner.

 Setelah itu, saya nyaris tak pernah kebagian rawon yang dijual bapak tiga anak tersebut. Setiap ke sana, di atas pukul 22.00 WIB, selalu habis.

 Nah, pada Kamis malam (5/6/2014), saya datang ke Rawon Agung. Hanya, ketika itu, saya mengontak Agung menanyakan apakah rawonnya masih. Ini saya lakukan agar kejadian rawon habis tak kembali terulang.

 ‘’Di atas jam 10 malam, rawon sudah habis. Alhamdulillah, masyarakat sekitar sini cocok dengan menu yang saya jual,’’ kata Agung.

 Dia menambahkan, dunia kuliner sebenarnya sudah dia tekuni setahun terakhir. Itu dilakukannya setelah mantan kiper Persis Solo tersebut tak diperpanjang kontraknya oleh Persegres Gresik.

 ‘’Saya jualan penyetan dulu. Tempatnya sebelah barat dari sini,’’ jelas Agung sambil menunjuk tempat yang kali pertama dia menekuni bisnis kuliner.

 Tempat yang jaraknya tak kurang 100 meter dari SD Wage itu kini berubah menjadi warung kopi. Dagangan penyetan, lanjut Agung, berjalan tak sesuai harapan.

Agung Prasetyo (kiper) saat membela Deltras

 ‘’Sebenarnya, tidak sepi hanya lambat perkembangannya,’’ tambah Agung.
 Dia akhirnya banting setir dengan menjual rawon dan pecel. Lokasi stannya pun pindah. Ternyata, lokasi baru tersebut ikut mendongkrak penjualan.

 ‘’Dulu jalan depan stan ini rusak. Setelah diperbaiki, saya pun memutuskan pindah ke sini. Apalagi, kawasan ini memang tempatnya orang berjualan makanan,’’ ungkap lelaki yang juga pernah membela dua tim Kalimantan, Persisam Samarinda dan Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), tersebut.

 Kini, seiring rawon dan pecelnya laris manis, sehari Agung menghabiskan 12 kilogram beras setiap hari. Kondisi ini pun membuat dia ingin membuka cabang di tempat yang jauh dari Wage.

 Meski dunia baru sudah bisa memberikan guyuran rupiah, Agung tetap masih ingin jatuh bangun di lapangan hijau. Hanya, dengan bertambah usia, dia mengaku satu atau dua tahun ke depan bakal menjadi akhir karirnya di bawah mistar. (*)

sumber - http://pinggirlapangan.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar