Senin, 18 Agustus 2014

Dua Kali Rasakan Turun dari ISL


PELATIH kepala boleh datang dan pergi dari Deltras Sidoarjo. Namun, posisi Yono Karpono sebagai asisten pelatih kiper nyaris tak tergoyahkan.
"Sejak 2003, saya sudah menjadi asisten pelatih di era Rudy Keltjes," kata Yono saat ditemui di Mes Deltras.

  Dia mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih kiper karena karirnya memang lebih banyak dihabiskan di bawah mistar. Diajak palang pintu tangguh Hamid Asnan, dia bergabung dengan Assyabaab, Surabaya, pada 1981 saat usianya masih 18 tahun.
Namun, Assyabaab juga tak sembarangan menerima. Klub binaan M. Barmen itu sudah pun tak sembarangan menerima pemain.

"Mereka sudah tahu main saya saat bertemu dalam ajang tarkam di Krian, Sidoarjo. Saya dan Hamid mampu merepotkan Assyabaab yang banyak diisi pemain-pemain Persebaya," jelas Yono.
Dia pun langsung masuk tim Persebaya Surabaya Junior dan tampil di ajang Piala Soeratin. Sayang, selama di klub asal Ampel itu, dia tak pernah mencicipi Persebaya Senior atau pun Assyabaab Salim Group yang berlaga di Galatama.

Setelah 13 tahun di Assyabaab, pada 1996, dia pun pindah ke Putra Surabaya milik Hartono Purnomosidi. Di klub itu pula, Yono memulai karirnya sebagai pelatih.
"Pada 2001 dan 2003, saya menjadi pelatih Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Setelah itu, baru saya ke Deltras karena ajakan Keltjes," ungkap lelaki yang bekerja di Puskesmas Porong karena keahliannya bermain bola itu.

Tawaran Deltras pun tak kuasa ditolak. Mulailah Yono menghabiskan waktu-waktunya di The Lobster, julukan Deltras. Hanya di era Deltras dipegang Vigit Waluyo, periode 2008-2010, Yono tak bergabung.
"Pada 2011 hingga sekarang, baru saya kembali ke Deltras," ungkap Yono.

  Di tim pujaan Deltamania itu, Yono dua kali merasakan pahitnya degradasi yakni pada 2008 dan 2012. Namun, itu tak membuat dia jera memoles para kiper Deltras. (*)

sumber - www.pinggirlapangan.com

0 komentar:

Posting Komentar