Kamis, 23 Oktober 2014

Korban-Korban Sepakbola Indonesia

Sebenarnya, individu atau kelompok dapat disebut “rival” saat keduanya bersaing dalam urusan prestasi. Jadi, agak rancu sebenarnya jika menyebut “rivalitas suporter”. Rival dalam hal apa? Toh tidak ada aspek penentu soal “yang terbaik” soal suporter. Kata yang cocok dalam menggambarkan hubungan antar suporter di Indonesia adalah “permusuhan” bukan “rival”.

Anda ingat nama Suhermansyah? Beri Mardias? Fathul Mulyadin? Atau kalau di masa tersebut masih belum ramai pemberitaan, pastilah Anda mengetahui pengeroyokan Rangga Cipta Nugraha di area Stadion Gelora Bung Karno. Beberapa hari lalu, salah seorang suporter PSCS, Lanus Mania, Muhammad Ikhwanudin pun meninggal dengan luka tusuk di bagian dada.

Kemarin (22/10), berita soal kematian suporter pun kembali mengudara. Kali ini menimpa laga Persis Solo menghadapi Martapura FC di Stadion Manahan. Joko Riyanto dikabarkan tewas akibat benda tajam menusuk ke paru-parunya. PT Liga Indonesia pun menggelar rapat dadakan terkait masalah tersebut.

Kepada Tribunnews, CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono mengatakan kejadian tersebut mesti disikapi secara serius. Nantinya, PSSI akan melibatkan pihak terkait di PSSI seperti Komisi Disiplin, Komisi Wasit, dan Komite Keamanan. Cukup aneh memang karena selama ini tidak ada konflik antara Pasoepati dengan suporter Martapura FC.

Sejumlah kejanggalan terjadi seperti wartawan yang tidak diperbolehkan mengambil gambar korban, hingga lubang di dada korban yang tembus hingga punggung. Meski tidak dijelaskan apa jenis benda tajam tersebut, apakah pisau atau mungkin peluru. Lagi pula, suporter mana yang ke stadion membawa-bawa pistol?

Kericuhan-kericuhan sepakbola di Indonesia banyak dipicu oleh ketidakpuasan akan kepemimpinan wasit. Tidak terhitung insiden tak sedap dipandang mata dalam sepakbola kita dipicu oleh kinerja wasit yang buruk. Ini pula yang jadi pemantik bentrokan antara suporter Persis Solo dan aparat kepolisian kemarin, juga insiden keributan di laga Persipura vs Arema Malang di laga 8 Besar ISL. Simak beberapa laporan kami mengenai hal ini:

1. Kejanggalan-kejanggalan di Hari Terakhir Putaran II ISL

2. Daftar Kontroversi Wasit Najamuddin Aspiran

3. Ini mekanisme dan metode kepolisian Inggris menangani laga-laga panas.

Sejak era Liga Indonesia bergulir, permusuhan itu sebenarnya telah terasa akibat lanjutan dari persaingan sejak era Perserikatan dan Galatama. Maka, wajar saat Liga Indonesia baru bergulir telah tercium aroma permusuhan antar suporter, atau pendukung antar kota.

Suhermansyah adalah suporter pertama di era Liga Indonesia pada tahun 1995 yang meninggal akibat permusuhan suporter. Menurut harian Kedaulatan Rakyat, Suherman, yang juga Bonek Mania tersebut tewas akibat terhimpit setelah berdesak-desakan lalu terjatuh. Saat itu PSIM Yogyakarta tengah menghadapi Persebaya dalam lanjutan Liga Indonesia di Stadion Mandala Krida.

Aroma dendam menjadi kental antara Surabaya dan Yogyakarta. Namun, 15 tahun berselang, Bonek Mania, dan Pasoepati bisa bergandengan di stadion yang sama. Api permusuhan tak akan menyala selamanya. Bukankah kita sudah terlalu bosan mendengar berita negatif soal suporter Indonesia? Bukankah kita telah teramat lelah bermuram durja saat kerusuhan pecah di stadion sepakbola?

Sepakbola itu indah, selama kita masih menikmatinya. Dan kita perlu hidup agar bisa terus menikmati permainan yang indah dan menyenangkan ini. Kita perlu hidup karena urusan di kolong langit ini bukan cuma sepakbola dan juga karena sepakbola hanya bisa dinikmati selama kita masih hidup dan bernafas. Tak boleh lagi sepakbola dihargai nyawa, sebab kita semua — termasuk Suhermansyah dan semua suporter yang tewas itu — juga masih ingin menyaksikan kesebelasan yang dicintainya.

Sumber Link - http://panditfootball.com/cerita/korban-korban-sepakbola-indonesia/

0 komentar:

Posting Komentar