Kamis, 25 Juni 2015

Jago di Lapangan Bola, Pintar Masak Kepiting


Muhammad Fakhrudin sering membela klub-klub besar di Indonesia. Gelar juara pun sudah pernah disandangnya. Tapi, mengapa dia banting setir berdagang kepiting?
--
SEBUAH mobil Jazz berhenti di depan SPBU Jati, Sidoarjo, yang sudah tutup pada Selasa siang (23/6/2015). Namun, mobil itu bukan lagi kehabisan bensin ataupun mogok.

Mobil sport keluaran 2007 itu berhenti karena berjualan kepiting. Di dalam bagasi pun terdapat etalase yang berisi kepiting yang sudah di masak.

''Awal jualan, saya memakai sistem online. Mengantarkan ke pembeli memakai mobil jazz ini, Sehingga orang pun mengenalnya dengan kepiting jazz,'' kata Muhammad Fakhrudin, sang penjual.

Bisnis berjualan kepiting ini, terangnya, baru ditekuni pada Oktober 2014 atau belum genap setahun. Ya, Fakhrudin si pedagang kepiting ini merupakan salah satu pesepak bola tersohor di Indonesia. Klub-klub papan atas itu kebanyakan berlaga di ajang kasta tertinggi sepak bola di tanah air, Indonesia Super League (ISL) pernah dibelanya.

Bahkan, Persisam Samarinda (Kalimantan Timur) dan Arema, Malang, pernah dibawanya menjadi juara. Pesut Mahakam, juara Divisi Utama pada 2008/2009 dan Singo Edan, jululan Arema, meraih trofi ISL semusim kemudian.

Fakhrudin : Saat membela Deltras di ISL 2011

''Saya melihat sepak bola Indonesia kondisinya parah. Gaji belum dibayar hingga permainan kotor,'' ujar lelaki 33 tahun tersebut.

Dia pun ingin mencari rezeki yang istiqomah. Nah, berdagang kepiting menjadi pilihan.

''Di lingkungan saya kan banyak peternak kepiting. Saya pun tertarik mencoba,'' jelas Fakhrudin yang tinggal di Kedungpeluk, Sidoarjo, daerah yang banyak tambak dan peternak udang.

Dia pun memulainya dengan menyuruh istri belajar memasak kepiting di salah satu saudaranya. Awalnya, kepiting yang dijualnya merupakan hasil masakan sang istri.

''Namun, sekarang, saya yang memasak semua. Alhamdulillah, para pembeli sudah banyak yang jadi pelanggan,'' ujar Fakhrudin.
Kepiting telor menjadi pilihannya karena rasanya beda dengan kepiting biasa.

Saat ini, Kepiting Jazz-nya mempunyai dua outlet. Selain di depan SPBU Jati, satunya di depan Timbangan Truk di kawasan Candi, yang masih masuk wilayah Sidoarjo. Selain dengan mobil jazz, kepiting hasil olahannya dijual dengan memakai sepeda motor yang sudah dimodifikasi.

''Namun, saat ini, saya hanya jualan di Jati. Rekan saya lagi ada acara di kampungnya,'' terang Fakhrudin.

Setiap hari, bapak tiga anak itu bisa menjual hingga 30 kemasan kepiting. Di kemasan itu ada yang berisi satu tapi ada juga yang lebih.

Harganya pun bervariasi mulai Rp 50.000 hingga 100.000.

''Semuanya masakan asam manis karena pembeli lebih suka,'' ungkap Fakhrudin.

Dia berharap kuliner yang ditekuninya bisa berkembang. Meski, dia harus berbagai waktu dengan sepak bola.

Fakhrudin (kanan) Saat selebrasi Goyang Gergaji

Terakhir, Fakhrudin masih tercatat sebagai pesepak bola di Persiku Kudus, Jawa Tengah. Dia bermain di ajang Liga Nusantara, kompetisi level terendah di kompetisi sepak bola Indonesia.

''Selain itu, saya juga menangani tim sepak bola di kampung. Namanya Cakra Buana,'' ujar lelaki yang sudah melanglang nusantara mulai dari Persijap Jepara, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persiba Balikpapan, Putra Samarinda, Arema Malang, hingga Sriwijaya FC Palembang itu.

Di tangannya, Cakra Buana musim ini mampu menjadi juara kelas II sekaligus naik level ke Kelas I. Hasil ini,terangnya, cukup diluar dugaan.

''Baru dua musim kami ikut. Musim sebelumnya, Cakra Buana hanya di papan tengah sehingga musim 2004/2015, targetnya papan atas saja,'' ucap Fakhrudin.

Ke depan, dia berharap bisa terus membagi waktu antara sepak bola dan bisnis kepitingnya bisa berjalan beriringan. (*)

sumber - www.pinggirlapangan.com

0 komentar:

Posting Komentar