Selasa, 01 November 2016

Lini Tengah The Lobster Wajib Ada Holding Midfielder Keras

Keras : Juan Revi berduel dengan Amarzuki, saat kompetisi ISL 2011 silam
Bila kita tengok kebelakang. Siapa yang tak kenal dengan Hariono arek asli klagen, sukodono itu melejit bersama The Lobster di era kejayaan musim 2007 silam. Hariono dikenal dengan gelandang pengangkut air yang keras. Bagaimana ia mengganggu para gelandang serang lawan untuk susah mengalirkan bola - bola manja ke strikernya. Duel - duel keras saat mengambil bola dari kaki lawan sudah menjadi hal wajib bagi pemain bernomor punggung 14 saat bersama Deltras itu.

Selepas Hariono, Deltras kembali menemukan gelandang bertahan yang juga sama karakternya dengan si gondrong. Juan Revi Auriqto. Revi bergabung bersama Deltras di musim ISL 2008. Permainannya yang taktis, lugas juga tak kalah garang saat menghadang serangan lawan dari lini tengah menjadikan Juan Revi gelandang muda andalan Deltras.

Sepeninggal Hariono dan Juan Revi, di musim - musim berikut The Lobster masih belum lagi menemukan gelandang muda yang memiliki tipikal atau bahkan lebih dari Hariono maupun Revi
Divisi Utama 2013, Deltras mempercayakan posisi gelandang bertahan kepada pemain kawakan Jefry Dwi Hadi yang juga sekaligus kapten tim saat itu.

Pengalaman Jefry yang sudah malang melintang membela tim atas Ligina macam Persik Kediri, Persiba Balikpapan, dan Persema Malang tetap menjadikan Jefry sebagai mesin pemotong serangan lawan dari area tengah.

Setelah flash back ke beberapa musim belakang tadi, mari kita lihat skuad Deltras musim kemarin yang finish di posisi juru kunci klasemen, tak lepas dari beberapa faktor penting yang mempengaruhi tim.

Dan salah satu kelemahan armada Puji Daryo di musim kemarin kala mengarungi kompetisi amatir Liga Nusantara 2016, salah satu faktornya yakni tak mempunyai seorang Holding Midfielder atau gelandang bertahan keras pengangkut air di lini tengah The Lobster.

Ya, memang gelandang - gelandang muda Deltras macam Ibnu Hajar, Fendik Dwi, maupun M.Hary Siswanto dengan umpan - umpan pendeknya yang begitu cepat dan ketenangan mereka mengalirkan bola membuat lini tengah Deltras bisa hidup. Mengurung pertahanan lawan dengan separuh lapangan begitu sering dilakukan oleh aksi gelandang muda kreatif ini.

Persoalannya adalah, Deltras di linus 2016 saat tertekan dimulai dari posisi tengah, tak ada atau bahkan nyaris sama sekali tidak ada pemain yang selalu keras dalam memotong aliran bola lawan atau menjadi gelandang bertahan yang tangguh di lini tengah deltras.

Pelatih Puji Daryo kerap menduetkan M. Hari Siswanto dengan David Zuyyin di belakang Ibnu Hajar sebagai gelandang serang. Aziz sapaan akrab M. Hari Siswanto seperti diketahui, ia bukan tipikal pemain keras di lini tengah atau gelandang bertahan. Begitu juga David Zuyyin.
Kerap kali kedua pemain ini menempatkan diri dalam posisi yang sama di area tengah lapangan.

Di dua laga ujicoba Deltras terakhir kala menjamu Persela U-21 (24/09) dan Bhayangkara Fc (27/09) di Gelora Delta. Pelatih sementara Deltras, Harmadi mempercayakan posisi gelandang bertahan justru kepada salah satu andalan tim Deltras U-17 yakni Setiawan. Posturnya yang kecil, tetapi tenaganya cukup mengimbangi para pemain senior dilapangan. Memang masih perlu jam terbang lebih panjang lagi untuk Setiawan.

Terlepas dari faktor pemain muda, jam terbang yang baru pertama kali bermain di Liga Nusantara 2016, serta tidak adanya pemain senior berpengalaman di dalam tim, membuat Deltras mendapat pelajaran sangat penting di liga nusantara kemarin. Manajemen dalam hal ini wajib evaluasi, titik lemah tim di musim depan. (bid)

0 komentar:

Posting Komentar