Kamis, 02 Maret 2017

Isdianto, Mantan Pemain Nasional yang Tekuni Bisnis Warkop (2)

Isdianto saat melayani di warkop miliknya [foto : Sidiq Prasetyo / pinggirlapangan.com]
Cedera saat Membela Arema
Keputusannya memilih bergabung klub galatama Gelora Dewata menjadi pijkan karir yang tepat. Bakatnya mulai terasah hingga bisa menjelah ke berbagai klub.
--
JARAK Banyuwangi dan Bali tak terlalu jauh. Meski berbeda pulau, keduanya bisa ditempuh dengan kapal selama dua jam.

Sehingga, bagi warga Banyuwangi, Pulau Dewata, julukan Bali, bukan tempat yang asing.  Banyak warga daerah ujung timur Pulau Jawa tersebut merantau ke sana.

Itu pula yang dilakukan oleh Isdianto. Jiwa mudanya yang masih 21 tahun bergolak.

''Saya diajak bermain di kompetisi internal Perseden Denpasar. Dari sana saya kenal Misnadi,'' ungkap Isdianto.

Misnadi adalah penyerang andalan klub galatama asal Bali, Gelora Dewata. Namanya juga sudah dikenal sebagai penyerang lokal paling berbahaya di kancah sepak bola nasional.

''Dari Misnadi, saya diajak bergabung ke Gelora Dewata. Tawaran tersebut tak bisa saya tolak,'' kenang lelaki yang kini berusia 38 tahun tersebut.

Saat pindah ke Sidoarjo pada 2001, Isdianto pun ikut. Dia bertahan hingga musim 2002.

''Setelah itu, saya ke Arema pada 2003-2004,''ujarnya.

Di Singo Edan, julukan Arema, pula dia mendapat petaka.Dalam sebuah pertandingan, kakinya patah yang memaksanya naik ke meja operasi.

'Sebelum cedera, saya ikut seleksi timnas di era (Ivan) Kolev.  Karena cedera, selama satu musim, 2005-2006, saya tak bermain,'' lanjut Isdianto sambil menunjukkan bekas cederanya saat ditemui di warung kopi (warkop) miliknya di Beciro, Sukodono.

Setahun absen di lapangan guna penyembuhan luka, Isdianto pun dinyatakan pulih. Hanya, dia tak kembali ke Arema.

Isdianto memilih membela Persijap Jepara. Di Kota Ukir, julukan Persijap, lelaki yang semasa aktif sebagai pemain dikenal dengan rambut gondrongnya tersebut bergabung selama tiga musim (2007-2010).

Tuah Isdianto kembali moncer saat memutuskan membela Persisam Samarinda, Kalimantan Timur. Dia mengangkat tim tersebut menjadi juara Divisi Utama.

Persisam ternyata juga menjadi pelabuhan terakhir karirnya di lapangan hijau. Usia yang terus merambah tua membuat klub-klub menolak kehadirannya. (*/bersambung)

Isdianto punya hobi yang membuat dia bisa menghilangkan penat. Hanya, dia tetap butuh tambahan pemasukan buat mengepulkan asap dapur.

sumber - www.pinggirlapangan.com

0 komentar:

Posting Komentar