Kamis, 25 Mei 2017

Dulu Main di GBK, Sekarang...

Penuh : Deltamania saat mendukung Deltras di lapangan Kenongo Tulangan (21/05)

Deltras pernah menjadi tim yang disegani di sepak bola Indonesia. Dengan status sebagai tim di kasta tertinggi, mereka bertanding di stadion-stadion megah. Namun, kini, semuanya berbalik 180 derajat.
--
LAPANGAN Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, tak seperti biasanya. Lapangan yang biasanya sepi tersebut mendadak menjadi ramai.

Sejak dari pertigaan Tulangan, terlihat kelompok-kelompok orang dengan kaos merah. Jumlahnya semakin banyak saat saat mendekati lapangan yang jaraknya hanya 100 meter dari pertigaan.

 Ternyata, mereka yang memakai kaos merah tersebut adalah Deltamania, suporter klub Deltras Sidoarjo. Lalu mengapa mereka ke Lapangan Kenongo?

 Deltamania datang ke sana untuk memberikan dukungan kepada tim pujaannya, Deltras. The Lobster, julukan Deltras, bertanding di Lapangan Kenongo untuk menantang tuan rumah, PS Sinar Harapan (SH).

 Pertandingan yang dilaksanakan Minggu (21/5/2017) itu akhirnya dimenangkan oleh Deltras dengan skor 5-1. Mantan penyerang Persebaya Surabaya Wimba Sutan Fenosa menjadi bintang dengan sumbangan tiga gol (hat-trick).

 Sejak turun ke level terbawah, Deltras memang harus rela bermain di lapangan kampung. Meski bukan berarti meremehkan, tapi banyak tim Liga 3 atau level terbawah yang kualitasnya memang kurang bagus.

 Partai melawan Sinar Harapan juga menjadi laga away kedua Deltras. Sebelumnya, Wimba dkk bermain di Stadion Letjen Soedirman untuk menantang tuan rumah Bojonegoro FC. Saat itu, mereka menang 3-0.

 ''Lapangan Kenongo yang terjelek,'' kata Sekretaris Deltras Agustina Purwanto.
 Ini jauh beda dengan beberapa tahun lalu. Deltras selalu bertanding di stadion-stadion terbaik di negeri ini.

 Sebab, posisinya ketika itu merupakan anggota kasta tertinggi di ajang sepak bola nasional. Bahkan, bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno pun pernah dirasakan.

 Namun, seiring turunnya kasta, Deltras pun mengalami degradasi stadion yang dikunjungi. Tentu, kualitasnya masih di bawah kandang tim-tim Divisi Utama maupun Indonesia Super League (ISL).

 Kondisi terparah harus dilakoni ketika The Lobster turun ke Liga Nusantara, yang kini berganti nama menjadi Liga 3. Mereka harus rela bermain dari kampung ke kampung. (*)

sumber - www.pinggirlapangan.com

0 komentar:

Posting Komentar