Wednesday, January 16, 2019

VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka


VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka
Satgas Anti Mafia Bola Tetapkan Status Tersangka Kepada Vigit Waluyo

DELTACYBER - Mantan manajer tim Delta Putra Sidoarjo (Deltras) akhirnya benar-benar terseret dalam lingkaran hitam sepakbola Indonesia. Dialah Vigit Waluyo (VW). Putra almarhum H. Mislan pendiri klub Gelora Dewata Bali ini sebelumnya sudah menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo dalam kasusnya dugaan korupsi PDAM, yang merugikan negara Rp 3 Milyar.

Dengan sudah menyerahkan diri, kini VW harus berhadapan dengan kasus lain. Yakni, penyelidikan dirinya terhadap dugaan pengaturan skor di beberapa match dalam kompetisi Liga 2 2018 kemarin. VW akhirnya ditetapkan Satgas Anti Mafia Bola dalam dugaan match-fixing. Penetapan tersebut, setelah tim Satgas mampu mendalami bukti dan laporan terkait.

VW diduga mengalirkan dana segar kepada Dwi Irianto alias mbah putih, yang juga pelaku match fixing yang sebelumnya sudah tertangkap terlebih dahulu. Dana tersebut sebesar Rp 115 juta.
Uang tersebut diberi agar memuluskan langkah PS Mojokerto Putra diduga untuk naik kasta ke Liga 1. Hal tersebut lah yang membuat VW dijadikan tersangka oleh Satgas.

"Bahwa kasus dari pada perkara antara yang dilaporkan [adalah] pak Vigit Waluyo (VW), pada malam ini [kemarin] sudah melakukan gelar perkara," kata ketua tim media Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono, dikutip dari laman goal.com.

"Mekanisme gelar sudah menaikkan VW menjadi tersangka dalam kasus PS Mojokerto Putra," tambah pria berusia 50 tahun tersebut.

Sebelumnya, Vigit juga sudah mendapat hukuman dari Komite Disiplin PSSI. Ia dilarang beraktifitas di lingkungkan sepakbola tanah air karena terlibat match-fixing.

Sejauh ini Satgas Anti Mafia Bola sudah menetapkan enam orang tersangka. Selain Vigit ada komite eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, mantan anggota komite wasit Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, anggota nonaktif komite disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit Nurul Safarid.

0 komentar:

Post a Comment