Media Online Deltras-Deltamania

www.deltamania-cyber.com

Long Life Deltamania

Jaga Selalu Keutuhan Keluarga Besar Ini Kawan !

Ini Dia Regulasi Liga 3 2018

Regulasi Liga 3 Jawa Timur 2018

Wednesday, January 16, 2019

VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka


VW Akhirnya Ditetapkan Sebagai Tersangka
Satgas Anti Mafia Bola Tetapkan Status Tersangka Kepada Vigit Waluyo

DELTACYBER - Mantan manajer tim Delta Putra Sidoarjo (Deltras) akhirnya benar-benar terseret dalam lingkaran hitam sepakbola Indonesia. Dialah Vigit Waluyo (VW). Putra almarhum H. Mislan pendiri klub Gelora Dewata Bali ini sebelumnya sudah menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo dalam kasusnya dugaan korupsi PDAM, yang merugikan negara Rp 3 Milyar.

Dengan sudah menyerahkan diri, kini VW harus berhadapan dengan kasus lain. Yakni, penyelidikan dirinya terhadap dugaan pengaturan skor di beberapa match dalam kompetisi Liga 2 2018 kemarin. VW akhirnya ditetapkan Satgas Anti Mafia Bola dalam dugaan match-fixing. Penetapan tersebut, setelah tim Satgas mampu mendalami bukti dan laporan terkait.

VW diduga mengalirkan dana segar kepada Dwi Irianto alias mbah putih, yang juga pelaku match fixing yang sebelumnya sudah tertangkap terlebih dahulu. Dana tersebut sebesar Rp 115 juta.
Uang tersebut diberi agar memuluskan langkah PS Mojokerto Putra diduga untuk naik kasta ke Liga 1. Hal tersebut lah yang membuat VW dijadikan tersangka oleh Satgas.

"Bahwa kasus dari pada perkara antara yang dilaporkan [adalah] pak Vigit Waluyo (VW), pada malam ini [kemarin] sudah melakukan gelar perkara," kata ketua tim media Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono, dikutip dari laman goal.com.

"Mekanisme gelar sudah menaikkan VW menjadi tersangka dalam kasus PS Mojokerto Putra," tambah pria berusia 50 tahun tersebut.

Sebelumnya, Vigit juga sudah mendapat hukuman dari Komite Disiplin PSSI. Ia dilarang beraktifitas di lingkungkan sepakbola tanah air karena terlibat match-fixing.

Sejauh ini Satgas Anti Mafia Bola sudah menetapkan enam orang tersangka. Selain Vigit ada komite eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, mantan anggota komite wasit Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, anggota nonaktif komite disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit Nurul Safarid.

PSSI dan Polri Memperkuat Sinergi

SINERGITAS : PSSI dan Polri siap perangi pengaturan skor di Liga Indonesia [foto : pssi.org]

Federasi sepak bola Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia akan memperkuat sinergi untuk menyelesaikan masalah terkait match fixing dan match manipulation. Kerja sama ini akan segera dituangkan dalam nota kepahaman atau MoU.

Dalam pertemuan antara PSSI dan Polri, yang juga dihadiri perwakilan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) dan perwakilan Konfederasi Sepak bola Asia (AFC), di Jakarta, Selasa (15/1), didiskusikan tentang kolaborasi yang akan dijalankan PSSI dan Polri.es

Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria mengatakan, kerangka kerja sama akan segera disiapkan. PSSI ingin kerja sama yang luas dengan Polri dan perlu dituangkan dalam MoU. “Tidak cuma kasus match fixing atau match manipulation, kita juga ingin kerja sama dalam hal pengamanan pertandingan,” kata Tisha.

Terkait sinergi dalam penuntasan masalah match fixing dan match manipulation, Tisha menjelaskan bentuk kolaborasinya adalah PSSI lebih menangani pelanggaran olahraga yang diatur dalam kode disiplin PSSI, AFC dan FIFA. Sementara Polri lebih menangani ruang lingkup pelanggaran pidana atau yang masuk dalam hukum nasional.

“Pihak kepolisian nantinya akan banyak mengurusi pelanggaran-pelanggaran pidana yang ada di seputar terjadinya dugaan match fixing, sedangkan untuk membuktikan terjadinya match fixing atau tidak, itu ranahnya PSSI. Jadi, diharapkan dua badan ini bisa bekerja sama dengan baik," tutur dia.

PSSI, kata Tisha, dalam waktu dekat membentuk Komite Adhoc Integritas yang tugasnya untuk mendeteksi, mencegah dan merespons terhadap isu integritas pada sepak bola Indonesia.  Tisha mengungkapkan, pendirian Komite Adhoc Integrity merupakan cikal bakal terbentuknya departemen khusus di bawah kesekjenan PSSI yang menangani masalah integritas.

Rencananya, departemen tersebut akan dibentuk PSSI pada tahun 2020. Nantinya, kata Tisha, Komisi Adhoc Integritas akan memberikan masukan atau bukti-bukti serta pengamatan di lapangan terkait pola praktik perjudian (betting pattern).

Dalam pertemuan ini AFC memberi gambaran umum terkait penanganan kasus match fixing di Asia, seperti yang terjadi di Nepal, Thailand, China, Jepang, dan beberapa negara lainnya. "Makanya, kami tadi belajar beberapa kasus yang pernah ditangani oleh member association AFC, seperti apa saja yang sudah pernah mereka lakukan, terutama yang hubungannya kolaborasi dengan kepolisian," jelas Tisha.

Karobinops Sops Polri, Brigjen Polisi Imam Sugianto mengatakan, Polri dan PSSI memang perlu berkolaborasi dan bersinergi. Karena itu akan lebih baik jika dituangkan dalam MoU. “Dengan adanya sinergi, maka kita akan tahu tugas pokok dan fungsi masing-masing,” kata Imam.

sumber - www.pssi.org.